Pages

Kamis, 18 Oktober 2012

Beautiful Mistakes


Beautiful Mistake


"Beautiful Mistake adalah Gagas Duet, novella dari dua penulis kebanggaan GagasMedia: Prisca Primasari dan Sefryana Khairil. Keduanya masing-masing mempersembahkan cerita cinta tentang pentingnya sebuah kesempatan kedua bagi mimpi dan cita-cita. Biarkanlah cinta yang menunjukkan arah bagi hatimu."

Duet dari dua penulis favorit saya.
Ada dua cerita yang berdiri sendiri namun memiliki kesamaan, yaitu Dreamland dan Chokoreto.

Dreamland

Untuk menyembuhkan sakit hatinya, Nadine melarikan diri ke One Love Bar, sebuah kelab di daerah Kuta, Bali. Bersama dua orang temannya, Nadine ingin melepas masa lalunya, memulai kehidupan baru. Mata Nadine tertarik oleh sebuah kerumunan di mana ada aksi seorang bartender. Mata Nadine tak bisa berkedip ketika pandangan mereka berpapasan. Nadine pun ikut memesan coctail spesial, Dreamland, campuran vodca, cherry juice, dan cherry syrup.
"Kenapa? Kamu takut berharap?"
"Semua orang seharusnya punya harapan. Punya mimpi. Soalnya, saat nggak ada lagi yang bisa diperjuangkan, kita masih punya harapan, kan?"
Merasa sangat tertarik sikap tertutupnya ditambah dengan adanya beda pemikiran, Nadine ingin lebih mengenal bartender itu.

Fajar Ananta, laki-laki yang sangat tertutup, pendiam, pandai surfing dan memasak, sangat berlawanan dengan Nadine Almira Kamil yang namanya mempunyai arti harapan yang indah dan sempurna. Sesuai namanya, Nadine orang yang penuh mimpi, ceria, sangat menyukai fotografi, banyak bicara dan tidak mudah menyerah, terlebih menghadapi Fajar. Fajar tidak percaya akan harapan, dia tidak mempunyai mimpi lagi, semua impiannya sudah terkubur oleh masa lalu.

"Tuhan membiarkan kita kalah supaya kita tahu di mana letak kita salah. Supaya kita belajar berbuat benar."
 "Dalam Hidup, nggak ada yang mudah, tapi segala sesuatu pasti ada jalannya - kalau kita mau berusaha."
Nadine ingin membawa Fajar keluar dari masa lalunya, dan dia ingin mempunyai arti dalam kehidupan Fajar, sekecil apa pun itu. Tapi Fajar tetap tidak mau beranjak, bahkan Nadine sampai membuang mimpinya.

Jika cinta dan bahagia itu sederhana, mengapa yang terjadi sebaliknya? Semua berakhir sama, luka. 

Chokoreto

Bersetting di Jepang, lebih tepatnya di distrik Jiyugaoka, Akai Fukue atau biasa dipanggil Kai anak pemilik kafe minuman coklat: Chokoreto, akhir-akhir ini dia sering melakukan kesalahan, yaitu memecahkan cangkir. Alasannya adalah dia terusik oleh tetangga barunya, Yuki Akihara, gadis yang jarang tersenyum, cangung, kaku, jarang terlihat, seorang yang anti sosial, dia seorang yang introvert, sangat berbanding terbalik dengan kepribadian Kai yang ramah, ceria, sangat luwes, punya banyak teman dan penuh semangat. Kai pun mengunjungi gadis tersebut karena dia mendengar alunan piano, suara yang tidak mau hilang dari telinganya. Tapi niatnya diurungkan karena dia melihat Yuki terpekik senang ketika bertemu temannya. Gayung bersambut, Yuki dan temannya yang bernama Eri berkunjung ke Chokoreto dan memesan Stravinsky berrychoco, cokelat instan hangat bercampur cokelat padat dengan irisan buah-buahan berry.

Kai agak tersinggung ketika dia memergoki Yuki memiliki foto-fotonya, dari situlah kedekatan mereka bermula. Kai tahu Yuki mempelajari piano untuk mendalami karakter novel yang dia tulis yang (ngakunya) ciri-ciri fisiknya sama dengan Kai. Yuki tidak pede dengan hasil karyanya, tidak pernah ada yang mau menerbitkannya. Tapi Kai tetap optimis dan ingin membantu Yuki mewujudkan mimpinya.

Dari Revel-sensei, guru piano Yuki yang berkebangsaan Prancis, Yuki tahu kalau Kai adalah alumni N.A. Rimsky-Korsakov Saint Peterburg State Conservatory, sekolah para musik musisi klasik dunia, Kai mempunyai talenta yang amat besar dalam bermain piano. Sayangnya, Kai harus meninggalkan Rusia dan mimpinya ketika tahu ayahnya mengidap kanker, dia ingin merawat ayahnya dan menjalankan kafe minuman coklat yang sudah lama dirintis oleh ayahnya, melupakan mimpinya. Dan Yuki mencoba untuk memotivasi Kai untuk bermain piano lagi.

Tadinya, kukira Fukue-san dan aku begitu bertolak belakang. Dia gula dan aku merica.
Tapi sekarang, untuk beberapa alasan aku merasa bahwa kami sangat sama.
Setelah bertemu dengan Revel-sensai, Kai teringat akan masa lalunya ketika dia mengambil keputusan untuk meninggalkan St. Petersburg tanpa ragu-ragu, bahkan ketika ditawari mengikuti audisi sebagai pianis tetap Moskow Philharmonic Orchestra. Dia kembali ke Tokyo dengan fokus pada pengobatan ayahnya, dia menjual pianonya, CD-CD, biografi komposer, partitur, agar tidak dibayangi oleh yang tentang piano. Menyibukkan diri dengan meracik resep-resep cokelat panas, mengelola kafe, memikirkan agar ayahnya sembuh. Dia atas semua masalahnya sendiri, dia berkemauan keras untuk membantu Yuki mengatasi masalah yang tidak pernah lepas dari masa lalunya, tidak bisa tampil di depan orang banyak. Mereka saling membantu walau tidak saling mengharapkan. Mereka sama-sama punya impian, tapi tak punya keberanian untuk mewujudkannya.

"Anak bodoh, " gumam Fukue-san. "Dia mau bersusah payah mewujudkan mimpi orang lain, tapi menyerah bila menyangkut mimpinya sendiri."
Ketika kau menjadi orangtua..." ujarnya. "Tak ada yang bisa lebih melegakanmu selain kebahagiaan anakmu. tak ada yang lebih kau inginkan. Cita-cita anakmu adalah cita-citamu juga. Bila cita-cita mereka tidak tercapai, bagaimana perasaanmu? Bisakah kau meninggalkan mereka dengan tenang...?"
Aku percaya pada pepatah bahwa kita akan selalu bersama dengan yang benar-benar kita cinta, sekeras apa pun kita menghindar.

Dua cerita yang berbeda tapi memiliki kesamaan.
Pertama, setting. One Love Bar dan Chokoreto, tempat asik untuk melegakan rasa haus kita, tempat di mana cerita dimulai.
Kedua, minuman yang khas. Dreamland dan Stravinsky berrychoco.
Ketiga, tentang masa lalu, tentang kehilangan. Kedua cerita memiliki masa lalu yang ingin sekali dilupakan. Nadine yang dikhianati pacarnya, Fajar yang kehilangan istrinya. Yuki yang sewaktu kecil mempunyai kenangan buruk dengan gurunya sehingga membuat dia tidak pernah merasa percaya diri. Kai yang harus melupakan passion terbesarnya, bermain piano.
Keempat, tentang mimpi. Nadine yang sangat mencintai fotografer dan bermimpi untuk mengadakan sebuah pameran, Fajar yang bermimpi mempunyai kehidupan baru, Yuki yang bermimpi menerbitkan novelnya dan Kai yang bermimpi memainkan tuts piano lagi.
Kelima, karakter. Saya merasa karakter Nadine dan Kai mirip, begitu pula dengan Fajar dan Yuki, sama-sama berkebalikan. Nadine dan Kai yang ceria dan penuh semangat sedangkan Fajar dan Yuki yang mempunyai sifat tertutup.
Keenam, tema. Yak buku ini tentang meraih mimpi, selalu percaya akan sebuah kata "harapan".


Bagian yang paling saya suka dari kedua cerita tersebut adalah:
Dreamland: Ketika Fajar meninggalkan Nadine agar dia meraih mimpinya. Padahal Nadine udah rela dan dia ingin sekali memulai hidup baru bersama Fajar. Nyesek banget.

"Apa aku punya arti buat kamu, Jar?"
Fajar membalas gengaman tangannya. "Kamu berarti buat aku, Nadine. Karena itu aku nggak mau hancurin mimpi kamu."

Terkadang melepaskan bukan untuk menyakiti, melainkan merelakan orang yang dicintai mendapatkan sesuatu yang lebih pasti.

Chokoreto: Ketika Yuki mengadakan acara pre-release novelnya Lyubovdiiringi dentingan piano dari Kai. Rasanya ikut lega ketika membacanya, lega karena Yuki berhasil mengatasi masalahnya dengan Kai yang selalu mendukungnya.

Entah apa yang menggerakkanku, tapi setelah menatapnya lama, aku melangkah mendekatinya, dan perlahan memeluknya begitu saja.


Dan covernya, cantik banget! Alurnya cepet jadi bisa dibaca dalam sehari. Dreamland diambil dari sudut pandang orang ketika, sedangkan Chokoreto dari masing-masing tokoh utama, bagian Yuki dipaparkan lewat sebuah buku diary, tampilan isinya pun cantik, manis banget deh tampilan buku ini. Ada satu hal yang mengganjal ketika saya membaca buku ini, terlalu cepat. Ada bagian yang terlalu singkat, contohnya pada cerita Dreamland saya merasa hubungan Fajar dan Nadine cepat sekali terjalin. Yah namanya juga novella, jumlah kata yang tidak lebih dari 40.000, mungkin membuat penulis lebih memadatkan ceritanya. Tapi tetap bisa dinikmati kok, terlebih kita akan merasakan tulisan khas dari kedua penulis tersebut. Sefry dengan kalimat yang indah, cuplikan lagu di tiap bab dan adegan romantisnya sedangkan Prisca dengan para musisi klasik dunia yang dia sisipkan, membuat cerita ini mudah diterima dan terasa familier. Kalau dalam Dreamland emosi kita sedikit terkuras akan pengorbanan Nadine sedangkan di Chokoreto kita akan dibawa ke suasana yang hangat akan pertemanan Yuki dan Kai, ceritanya pun juga ringan. Dua kombinasi cerita yang nikmat.


Lihat juga Book Trailernya sebelum membaca buku ini

0 komentar:

Posting Komentar